Mari Singkirkan Sampah Kehidupan

Agama Islam sangat menekankan kebersihan, baik kebersihan fisik maupun batin.
Cinta Allah, antara lain, dialamatkan kepada orang yang bersih dan menyucikan diri. (QS Al-Baqarah [2]: 222). Setiap Muslim tentu sudah sangat maklum, hadis Nabi yang menyatakan, "Al-Thuhur-u syathr-u al-Iman." (Kebersihan adalah separuh dari iman). (HR Muslim dari Abi Malik al-Anshari).

Untuk bisa hidup bersih dan sehat, kita harus membuang dan membersihkan apa yang dinamakan 'sampah kehidupan' (life garbage). Sampah kehidupan itu banyak sekali, baik dalam diri maupun lingkungan kita. Namun, ada empat yang terpenting.

Pertama, sampah berupa kolesterol atau lemak-lemak tak berguna dalam tubuh kita. Sampah ini timbul karena pola makan yang kurang baik, dan bisa berkembang menjadi toksin (racun) yang dapat mengganggu kesehatan kita. Sampah ini bisa dibersihkan, antara lain, melalui puasa sunah, puasa Senin-Kamis, atau puasa hari-hari terang (Ayyam al-Baydh).

Kedua, sampah pikiran, yaitu pikiran negatif (negative thinking) yang dapat mengganggu kesehatan dan kemajuan kita. Pikiran kumuh, pesimistis, dan pandangan atau kepercayaan yang cenderung melemahkan diri sendiri (limiting believe) tergolong sampah pikiran.

Sampah yang satu ini sangat berbahaya, karena tak ada sesuatu yang paling membelenggu manusia selain pikirannya sendiri. Sampah ini harus dibersihkan, antara lain, dengan cara membangun pikiran baru (mindset) yang positif dan optimistis (husn al-zhann), serta fokus pada kemajuan, bukan pada kemunduran.

Ketiga, sampah relasi sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia perlu berkomunikasi dengan orang lain. Namun, dalam berkomunikasi, manusia memerlukan keterampilan tersendiri agar terhindar dari akibat buruk. Ingat, dalam komunikasi itu timbul saling memengaruhi. Emosi negatif bisa memancarkan emosi dan energi negatif pula melalui apa yang disebut 'vibrasi emosi'.

Itu sebabnya, Islam menyuruh agar kita bergaul dan berteman dengan orang-orang baik (shuhbat al-shalihin). Bahkan, sufi terkemuka, Ibnu Athaillah al-Sakandari, dalam bukunya yang sangat kesohor, al-Hikam, melarang kita berteman dengan orang-orang yang tidak inspiratif. Katanya, "La tashhah man la yunhidhuka qauluh-u wa fi`luh-u."

Kempat, sampah berupa dosa-dosa kita. Dosa dan maksiat adalah sampah yang mengotori jiwa dan hati kita. Para sufi sudah sejak lama memandang dosa ibarat polusi atau awan tebal yang menutupi hati-nurani kita. Sampah ini harus dibersihkan dengan tobat, yaitu meninggalkan dosa-dosa, baik besar maupun kecil, dan kembali ke jalan Tuhan. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah [2]: 222). Wallahu a`lam.

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/11/22/148056-mari-singkirkan-sampah-kehidupan