Hanya Surga, Balasan Bagi Haji Mabrur


Rasulullah bersabda, "Barang siapa berhaji di Baitullah, kemudian dia tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa, ia kembali dari haji seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya." (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Rangkaian ibadah haji di Tanah Suci sudah usai. Para jamaah akan pulang dari Tanah Suci ke negara masing-masing dengan membawa label 'telah berhaji'. Kaum Muslim Indonesia biasanya mencantumkan label 'haji', yang disingkat dengan 'H' (bagi laki-laki), atau 'hajah', yang disingkat 'Hj' (bagi wanita), di depan namanya.

Sebuah bukti sekaligus kebanggaan dan rasa syukur bahwa ia telah menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Bagi yang pertama kali berhaji tentu saja.

Secara formal, rangkaian-rangkaian ibadah haji mulai dari ihram sampai tahalul sudah sempurna dilakukan. Tapi, sesungguhnya ibadah haji tidak hanya pemenuhan formal saja. Pada hadis di atas, Rasulullah mengisyaratkan sisi informal haji yang juga harus dipenuhi, yakni larangan untuk tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa.

Sisi informal ini berlaku, atau hal yang mesti disertakan pada setiap rangkaian ibadah formal haji. Jika dua sisi ini dilakukan, seperti disebutkan oleh beliau, orang tersebut akan kembali tanpa dosa, seperti bayi baru terlahir. Itulah yang disebut dengan haji mabrur, yang balasannya adalah surga. "Haji mabrur itu tidak ada balasan lain, kecuali surga." (HR Nasai dari Abu Hurairah).

Tidak ada oleh-oleh yang paling berharga dari Tanah Suci, selain haji mabrur. Inilah aset yang akan ditukar dengan surga, sekaligus investasi paling berharga di akhirat. Dan, memang hanya surgalah yang disiapkan oleh Allah bagi orang-orang yang hajinya mabrur.

Sebagai sebuah aset, orang-orang yang hajinya mabrur berkewajiban untuk menjaganya baik-baik agar tidak kotor, apalagi sampai rusak. Tidak sedikit orang yang berhaji dan pulang membawa haji mabrur. Tapi setelah haji, ia kembali berkata-kata kotor dan berbuat dosa.

Label haji atau hajah yang disematkan di depan nama orang yang pulang dari haji sebenarnya adalah label pengingat bahwa ia sudah berhaji dan dituntut untuk menjaga kehajian atau kehajahannya sampai akhir hayat dengan menjaga lisan atau menjaga diri dari perbuatan dosa.

Secara formal, ibadah haji waktunya terbatas, bentuk-bentuk manasiknya juga sudah ditentukan. Tapi, secara informal, nilai-nilai ibadah haji akan terus menyertai orang yang berhaji, bahkan hingga ketika haji formal itu sudah usai.

Tidak ada haji di bulan selain Dzulhijah, tapi nilai-nilai yang terkandung di dalam seluruh rangkaian ibadah haji itu akan terus bersama orang yang telah berhaji, kapan pun dan di manapun. Orang yang telah berhaji dituntut untuk mengimplementasikan nilai-nilai itu sepanjang hayat. Wallahu a'lam.

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/11/25/148814-hanya-surga-balasan-bagi-haji-mabrur