Dongeng Dalam Hati


Dahulu hidup seorang putri kecil yang sangat cantik. Dia tumbuh dewasa dalam sebuah kastil yang indah. Saat menginjak usia 15 tahun, pada suatu malam, ketika sedang tidur nyenyak, mendadak muncul jin berwajah jelek seperti seekor tikus besar, sekujur tubuhnya berbau busuk, diam-diam merangkak ke tempat tidur bermaksud ingin menggoda sang puteri.

Selanjutnya datang lagi satu, dua, tiga jin... banyak sekali jin yang mengelilinginya, mereka tertawa cekikikan. Sang putri terbangun dari tidur, membuka mata melihat jin yang begitu banyak, dia segera ketakutan sekali hingga tak bisa mengeluarkan suara.

Jin-jin itu menarik-narik baju sang putri sambil berbicara bergantian, “Anda manusia yang tidak tahu budi! Apakah lupa bahwa Anda asalnya juga jin, salah satu dari kami? Ketika sang putri sebenarnya masih kecil, kita bunuh dan makan dagingnya. Anda memakan sumsum putri itu sehingga bisa berubah menjadi manusia. Meski wajah Anda mirip manusia, tetapi darah yang mengalir dalam tubuh itu adalah darah jin, dalam lubuk hati Anda masih adalah jin!

Beberapa jin mendorong cermin hias kehadapan putri, dan berkata, “Jika Anda tidak percaya silahkan melihatnya!” Dari cermin itu, sang putri melihat hidungnya bulat seperti jin. Matanya juga agak kecil seperti jin, semakin dilihat semakin merasakan wajahnya mirip jin. Sang putri mulai curiga pada diri sendiri, apakah benar seperti yang mereka katakan.

Jin-jin itu berkata sambil berteriak, “Putri adalah jin.” Mereka tertawa jail karena berhasil mengelabui sang putri. Sebelum sang putri terbangun, kaca cermin itu sudah diberi sihir oleh jin-jin itu, sehingga ketika sang putri melihat dirinya dalam cermin semakin lama terlihat persis dengan jin, dan bukan seperti dirinya diluar cermin yang masih tetap cantik.

Sejak malam itu, sang putri berubah menjadi pemurung, mengurung diri sepanjang hari di kamar, sering kali menangis seorang diri, mengkhawatirkan parasnya yang buruk pasti akan ditertawai orang. Jin-jin itu setiap malam mendatangi kamar sang putri, terus-menerus mengusik dan menyiksa batinnya. Jin-jin itu juga membuat kamar sang putri jadi kotor dan berbau, kacau sekali.

Akhirnya sang putri tak tahan lagi, dia bertanya kepada ibunya, “Ibunda ratu, apakah paras saya jelek sekali?”

Ibunda ratu menjawab, “Mana mungkin?! Kamu putriku yang paling cantik dan elok diseluruh dunia!”

Dalam hati sang putri berpikir, “Pasti Ibunda ratu sangat menyayangi diriku, sehingga berkata demikian untuk menghiburku.” Putri melewatkan keseharian dengan muram, hal tersebut diketahui dan sangat dikhawatirkan Ibunda ratu.

Beberapa hari lagi hari ulang tahun sang putri yang ke-16, Ibunda ratu memutuskan mengadakan pesta ulang tahun untuk putrinya, berharap suasana keramaian pesta bisa membuat sang putri menjadi gembira. Sudah tentu sang putri bersikeras tidak setuju, karena khawatir orang lain akan menertawai paras jeleknya. Tetapi karena Ibunda ratu tetap mempertahankan, pesta ulang tahun tetap diselenggarakan.

Sang putri mengurai rambut panjangnya untuk menutupi wajah, melalui rambut poninya dia mengintai kumpulan orang yang hadir dalam pesta ulang tahunnya itu.

Banyak sekali pemuda tampan dan berprestasi mereka meminta putri untuk berdansa dengan mereka, tetapi mereka semuanya ditolak sang putri. Putri merasakan bahwa mereka hanya ingin menyindir kejelekan wajahnya saja, semakin banyak orang yang memintanya untuk berdansa dia semakin merasa terhina, dan semakin menjadi berang.

Kemudian ada seorang pria yang berwajah garang, tutur kata dan perilakunya sangat tidak sopan, dia maju dan berbincang dengan sang putri. Meski dalam hati putri merasa sangat benci, tetapi dia juga bersyukur bahwa setelah kedatangan pria tersebut tidak ada lagi orang lain yang mendekat. Kemudian pria bejat ini menggandeng tangan sang putri dengan kurang sopan, sedangkan sang putri juga berpura-pura tidak menghiraukannya. Bahkan akhirnya putri menyetujui permintaan pria tersebut untuk berhubungan dengannya.

Setiap orang menasehati sang putri bahwa pria pilihannya itu seorang pria nakal, dan menyarankan untuk tidak berhubungan dengannya, lagi pula dia sama sekali tidak sepadan dengan putri. Meski dalam hati sang putri sangat jelas terlihat betapa tidak baik pria tersebut, tetapi sang putri tetap membela pria tersebut, bertahan untuk berhubungan terus dengan pria tersebut. Saat ini putri sudah menganggap keterbelakangan dirinya sebagai suratan takdir.

Hari demi hari berlalu, putri dalam cermin makin hari semakin mirip jin. Putri menutup erat jendela dan pintu, sangat takut orang lain melihat keburukan wajahnya. Kutukan jin pada cermin itu masih belum terhapus, hanya sinar mentari pagi yang cerah, bisa menghapusnya.

Suatu hari, secara kebetulan ada seberkas sinar matahari masuk ke dalam kamar sang putri. Sinar itu persis jatuh pada cermin, dan segera kutukan itu terhapuskan. Ketika sang putri berjalan lewat di depan cermin, tiba-tiba ia menemukan bahwa wajah aslinya masih tetap cantik sekali. Dia baru sadar apa yang telah terjadi, ternyata semua ini perbuatan jail jin-jin itu.

Malam itu ketika seperti biasa jin datang ke kamar sang putri untuk berbuat onar. Sang putri berpura-pura masih tidak tahu tipu muslihat mereka, membiarkan mereka berbuat onar. Hingga menjelang pagi, sang putri mengatakan bahwa dirinya sudah tidak tahan lagi, meminta jin meninggalkan dirinya. Putri tahu semakin dia memohon, mereka semakin tidak mau meninggalkan tempat itu.

Putri berpura-pura mundur ke arah jendela. Sedangkan para jin itu juga hendak melanjutkan menggodanya. Secara mendadak sang putri membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Sinar matahari yang terang menyoroti semua tubuh jin itu. Mereka bergulung-gulung kesakitan di atas lantai, berangsur-angsur mengerut menjadi bola kering.

Meski sang putri sangat membenci jin itu, tetapi ia merasakan sedikit tidak tega melihat jin-jin itu mengalami kesakitan yang begitu hebat. Cahaya matahari terus menyinari bola-bola kering, berangsur-angsur bola-bola itu berubah menjadi bening. Di luar dugaan kemudian berubah menjadi peri-peri yang cantik, mengibaskan sayap mereka yang bening dan terang itu terbang keluar jendela.

Ada satu peri yang berhenti di atas teras jendela dan berkata kepada sang putri, “Terima kasih Anda telah menolong kami! Kami sebenarnya berasal dari negeri peri di sebelah utara, karena dikutuk tukang sihir menjadi jin. Kami berubah menjadi sangat jelek, dan hanya bisa hidup ditempat yang gelap dan basah. Kami merasa sangat risau sehingga mencari kesenangan dengan menggoda orang lain, kami merasa menyesal sekali telah membuat Anda sengsara!”

Selesai berbicara, peri itu terbang pergi ke arah sinar matahari mengikuti peri-peri yang lain. Dalam hati sang putri penuh dengan ketenangan, melihat titik cahaya terang ketika peri-peri itu terbang pergi.

Selanjutnya putri membatalkan janji pernikahannya dengan pria nakal itu.

Setiap orang adalah pusaka yang tak ternilai harganya, sama terhormatnya seperti diri seorang putri dan pangeran. Setiap orang memiliki bakat dan kemampuan terpendam yang sangat baik dan indah, seperti kecantikan putri dalam kisah ini. Namun kadangkala karena bermacam opini publik bagai kutukan iblis yang berada di sekitar kita, berbagai macam godaan dari nama, keuntungan dan perasaan, lalu melupakan diri kita yang sejati dan mengalir mengikuti arus.

Jika kita bisa menemukan seberkas sinar matahari yang bisa menghapuskan kutukan iblis itu... yakni keyakinan dan keberanian, serta bisa percaya dengan teguh kepada kebaikan dan kemurnian diri kita yang paling hakiki, barulah bisa membuat diri kita sendiri tidak tertutupi oleh benda-benda dalam dunia yang sangat rendah itu.
(Ming Yue/The Epoch Times/lin)

http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/17912-dongeng-dalam-hati